Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta sedang melakukan penyelidikan tindak pidana Keimigrasian penggunaan Dokumen Perjalanan (paspor) yang palsu / dipalsukan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, yang dilakukan oleh 1 (satu) orang tersangka warga negara Sri Lanka a.n. SARMILAN SOMASUNDARAN alias RAJIV GUNALAN.

Kejadian perkara diketahui pada hari Rabu, tanggal 21 September 2016 di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, penumpang pesawat Mihin Lanka MJ603 dari Kolombo mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sekira pukul 14.30 WIB, dilakukan pemeriksaan Keimigrasian terhadap 1 (satu) Orang Asing yang bermaksud memasuki Wilayah Indonesia dengan menggunakan Dokumen Perjalanan berupa paspor emergensi kebangsaan Jerman Nomor A2416726 berlaku tanggal 21-07-2016 s.d. 20-07-2017 atas nama RAJIV GUNALAN. Setelah dilakukan pemeriksaan dan wawancara, petugas Imigrasi menduga paspor emergensi yang digunakan adalah palsu dikarenakan Paspor Emergensi seharusnya digunakan langsung ke negara asal namun yang bersangkutan terlebih dahulu pergi ke negara lain yaitu Indonesia dan yang bersangkutan langsung dibawa keruangan Supervisor Imigrasi di Terminal 2D untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah dilakukan pemeriksaan awal yang bersangkutan akhirnya mengakui bahwa kewarganegaraan asli adalah Sri Lanka dan paspor emergensi Jerman yang digunakan didapat atas bantuan seseorang dengan membayar sejumlah uang.

                                                         

Dalam pemeriksaan lebih lanjut di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus soekarno Hatta, SARMILAN SOMASUNDARAN alias RAJIV GUNALAN adalah Warga Negara Sri Lanka dan memiliki Paspor Sri Lanka nomor N3089296 an. SARMILAN SOMASUNDARAN, tanggal lahir 15 April 1993, dengan masa berlaku dari 20 Januari 2012 sampai dengan 20 Januari 2022 yang digunakannya ketika berangkat dari Kolombo menuju Jakarta dan setibanya di Jakarta yang bersangkutan menggunakan Paspor Emergensi Jerman dalam proses pemeriksaan Keimigrasian. SARMILAN SOMASUNDARAN menggunakan Paspor Emergensi Jerman diduga palsu untuk mendapatkan kehidupan lebih baik dan kesempatan bekerja dengan gaji lebih besar di Jerman nantinya. Paspor Emergensi Jerman diduga palsu yang didapatkan dari seorang agen bernama VANAN yang berada di Kolombo dengan membayar 600.000 Sri Lanka Rupee atau setara dengan 4100 Dolar Amerika termasuk tiket pesawat yang ditempuh untuk sampai di Jerman.

Atas perbuatannya tersebut, tersangka diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

 

Kontributor : Arif Darius


© 2016 Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta. All Rights Reserved.